Minggu, 14 September 2014

Tentang Konservasi

KONSERVASIONIS LEBIH UTAMA
Oleh: Titis Antika
Program yang digadang-gadang sebagai aksi perlindungan, pengawetan , dan penggunaan secara lestari merupakan upaya yang dikenal dengan konservasi.  Membahas  mengenai konservasi, tidak jauh pemikiran kita tentang lingkungan. Jika yang dimaksudkan adalah konservasi lingkungan tentunya. Akan tetapi, pembicaraan yang lebih luas seputar konservasi, banyak ranah yang ada didalamnya misal konservasi budaya, dan konservasi moral. Dari ketiga ranah tersebut juga konservasi lingkungan, terdapat konservasi yang paling penting sebelum konservasi lainnya. Hal terpenting tersebut terkait dengan konservasionis sebagai stake holder, yaitu orang-orang yang menjadi agen of change dari konservasi itu sendiri. Orang terkait yang memiliki pengaruh besar dalam pelaksanaan konservasi yaitu konservasionis yang konservatif.

Pada 12 Maret tepatnya tahun 2010, Unnes disaksikan oleh Mendiknas pada “Deklarasi Unnes Konservasi”. Dalam deklarasi tersebut Unnes mencetuskan visi yaitu ”Menjadi Universitas Konservasi bertaraf Internasional yang Sehat, Unggul, dan Sejahtera pada tahun 2020”. Fakta yang ada sekarang, merupakan aksi-aksi yang mendukung visi tersebut diantaranya terdapat aksi biodiversitas, sistem transportasi internal penggunaan bus Unnes yang banyaknya terdiri atas lima unit bus, green architecture atau arsitektur hijau yang didalamnya terdapat pengurangan sampah dan kelas nonAc, gerakan bersepeda di kampus, dan paperlees yang didukung dengan pemberdayaan sistem jaringan. Tetapi hal yang sedemikian rupa disusun manis terencana, akan perlahan pudar karena kurang adanya konsistensi dan kedisiplinan dari pihak konservasionis yang ada di kampus Unnes Konservasi.
Konservasionis menjadi garapan yang lebih utama, dibanding dengan program-program muluk yang telah disusun secara apik. Paparan program diatas tidak ada fungsinya jika konservasionis tidak menjadi perhatian utama. Contoh nyata, apakah arti konservasi itu memiliki aturan waktu? Pada pemberlakuan kebijakan kendaraan internal pukul 07.00 s.d 17.00 Wib. Apakah konservasi itu memiliki satpam? Yang membuang sampah semabarangan jika tidak ketahuan, yang merokok diarea kampus secara sengaja?. Dan apakah tidak menjadi permasalah yang sangat pelik? Jika arti konservasi lebih dalam ditelusuri, karena fakta yang ada tidak sesuai dengan tulisan “Kampus Berbasis Konservasi” jika kampus belum bermuatan konservasi? Ataupun jika konservasionisnya belum konservasi?.

Solusi jitu yang harus diberlakukan adalah menjadikan konservasionis yang berkonservasi sebelum memberi kebijakan program konservasi, solusinya adalah mengubah pola pikir dan pola tindakan. Pola pikir tentang konservasi tidak semata-mata hanya sebatas pengertian tentang konservasi, tetapi lebih pada pemikiran konservasi yang lebih mendalam. Pola tindakan konservasi berkesimanbungan dengan pola pikir konservasi, tindakan yang mendukung konservasi adalah penanaman karakter dan pengamalan karakter pada program-progam yang telah dijalakkan Unnes. Dan yang terpenting adalah membaur dengan alam jika konservasionis ingin menjadi konservatif yang konservasi. Alam pun memiliki komunikasi yang seperti konservasionis lakukan, ibarat alam diri kita yang sama halnya diberlakukan adil dan semestinya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar